Strategi Pemasaran Produk Susu Kedelai

Alhamdulillah sudah sekitar 4 tahun kami usaha jualan susu kedelai. Pada kesempatan kali ini kami ingin membagi pengalaman tentang lika-liku berjualan susu kedelai. Tulisan ini memang benar-benar dari pengalaman kerja kami sendiri, jadi bukan mengarang indah.

Susu Kedelai tanpa langu

Segmen yang kami bidik adalah segmen menengah kebawah, jadi harga jualnya @ Rp 500,- dan @ Rp 1.000,-. Kenapa murah? Memang produk susu kedelai yang kami buat murni hanya dari sari kedelai tanpa campuran bahan lain, misalnya yang sering buat campuran adalah madu, jahe, ginseng.

Area pemasarannya adalah perkampungan penduduk yang lumayan jauh dari perkotaan, ya sekitar 7 Km dari kota. Bapak saya selaku pembuat dan pemasaran wilayah desa kami tinggal, sedangkan saya areanya 3 desa tetangga. Bapak memakai gerobak dorong, saya pakai motor bebek.

Sekitar jam 17.00 Bapak sudah mulai mencuci kedelai dan merendamnya. Jam 01.30 mulai menggiling kedelai dengan mesin susu kedelai. Jam 04.00 susu kedelai sudah mulai dibungkus. Susu kedelai siap dipasarkan sekitar jam 06.00. Pagi kita jual susu kedelai hangat, setelah sekitar jam 09.00 kita jual susu kedelai dingin. Jadi setelah susu kedelai dibungkus, sebagian dijual langsung sebagai susu kedelai hangat, sebagian kita masukkan freezer untuk dijual dingin.

Alat untuk memanggil calon konsumen adalah memakai bekas bel sepeda yang dikasih bandul, sehinga apabila goyang terdengar bunyi gemrincing. Kalau saya nda pakai alat, jadi langsung saya teriak-teriak "Sule-Sule". Pertimbangannya agar calon konsumen yang berada dalam rumah sudah langsung tahu kalau penjual Susu kedelai datang. Memang kita sengaja tidak memakai suara musik, karena Nabi  Muhammad Shalallohu alaihi wasallam melarangnya. Dalam  Hadits Abu ‘Amir atau Abu Malik Al-Asy’ari bahwa Rasulullah Shalallohu alaihi wasallam bersabda: “Akan muncul di kalangan umatku, kaum-kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat-alat musik. Dan akan ada kaum yang menuju puncak gunung kembali bersama ternak mereka, lalu ada orang miskin yang datang kepada mereka meminta satu kebutuhan, lalu mereka mengatakan: ‘Kembalilah kepada kami besok.’ Lalu Allah membinasakan mereka di malam hari dan menghancurkan bukit tersebut. Dan Allah mengubah yang lainnya menjadi kera-kera dan babi-babi, hingga hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari, 10/5590) Lihat selengkapnya di Majalah Asy Syariah tentang Hukum Musik dan Nyanyian.

Pagi hari kita keliling ditiap gang-gang desa, titik-titik dimana biasa konsumen beli, maka kita berhenti sejenak sambil teriak “sule-sule”, biasanya mereka keluar rumah untuk membeli susu kedelai. Kita harus yakin Alloh pasti sudah menjatah rizki kita, jadi ketika konsumen yang biasa beli ternyata nda beli, tetap semangat InsyaAlloh akan dibeli konsumen yang lain, yang penting tetep terus menawarkan. Alhamdulillah sering kali mendapat bigdeal dari arah yang tidak disangka-sangka.
Untuk segmen menengah kebawah kemasan susu kedelai dibuat sangat sederhana, tanpa merk dan menggunakan plastik yang sederhana yang penting plastik tahan panas. Tapi untuk rasa susu kedelai sangat kami jaga agar tetap enak, gula asli, tanpa pemanis buatan, tanpa pengawet, dan tidak langu, sehingga konsumen tidak bosan mengkonsumsi susu kedelai kami, walaupun mereka mengkonsumsinya tiap hari. Jadi Branding susu kedelai kami terletak pada penjualnya, maksudnya konsumen memilih susu kedelai bila penjualnya si A atau si B.

Disamping penjualan door to door kami juga memadukan dengan sistem kongsinyasi atau nitip di kantin sekolah. Ketika ada retur dari sistem kongsinyasi bisa langsung kita jual lagi secara door to doot, sehingga bisa meminimalisir retur.

Jam-jam mendekati masuk sekolah, jam stirahat dan jam pulang biasanya kami mangkal di depan sekolahan. Memang tidak semua sekolah bisa kami kejar, makanya sekolah yang lain kami jual dengan cara dititipkan di kantin sekolah. Disela-sela waktu itu kita keliling kampung. Hari ahad atau hari libur malah hari yang menyenangkan bagi kami, karena konsumen pada kumpul dirumah.

Memang untuk segmen menengah kebawah harga murah dan terjangkau menjadi pertimbangan utama, tapi harus tetap menjaga kualitas rasa. Makanya kemasan dibuat sederhana. Walaupun harga jualnya murah, Alhamdulillah keuntungan masih bisa mencapai 147%. Yang penting ulet, telaten melayani pembelian nominal kecil. Pepatah mengatakan “Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit”.
Sebagai seorang pedagang atau penjual atau salesman keramamahan jadi modal utama. Apalagi konsumen kami mayoritas anak-anak SD kebawah, jadi harus suka melayani anak-anak. Layaknya seorang guru SD atau PAUD suka mengajar anak-anak. Kadang-kadang mereka suka kalau dikasih cerita-cerita, sambil sedikit-sedikit diajari Tauhid, akhlak, adab makan minum, cerita para Nabi dan para Sahabat Nabi, hadits. Jadi anak-anak menganggap penjual susu seperti guru mereka, kadang mereka hanya cuma pingin mendengar cerita atau nasehat sederhana, walaupun mereka tidak beli susu kedelainya. Hehehe.

Penampilan juga penting dalam menjual, apalagi kita jualan makanan, penampilan harus bersih, kuku harus selalu pendek, jadi penampakan terlihat higienis.


SUSU KEDELAI MENEGAH KEATAS

Pengalaman ini didapat dari seorang kenalan yang menggarap penjualan susu kedelai kepada etnik cina. Awal kali menjual dengan memberikan sample satu-satu kepada calon konsumen dengan melampirkan fotocopy KTP sebagai jaminan, kalau ada masalah di susu kedelai bisa menghubungi identitas tersebut. Segmen yang dibidik memang khusus etnik Cina, karena dia punya prinsip berbisnis dengan orang cina “Hidup sekalian atau Mati sekalian” maksudnya kalau orang cina sudah percaya dengan produk dan layanan kita mereka akan betul-betul loyal dengan kita, tapi kalau mereka sudah tidak percaya maka mereka akan meninggalkan kita sama sekali.
Segmen menengah keatas untuk harga murah malah mereka jadi ragu akan kualitas produk kita. Bahkan pernah saya coba jualan susu kedelai harga 500 di kota, dikira gulanya pakai pemanis buatan. Hehehe.

Dikota harga susu kedelai sekitar Rp 2.000,- keatas. Ada juga susu sari kacang hijau seharga Rp 2.500,-. Susu kedelai rasa madu, jahe, ginseng berkisar Rp 2.000,- sampai Rp 3.000,- perbungkusnya.
Untuk segmen menengah ketas kemasan produk sangat penting. Plastik harus memakai yang tebal yang kuat lama di freezer, tidak gampang bocor. Kemasan harus bermerk, ada ijin depkes. Penampilan diri dan peralatan juga harus rapi dan extra bersih.
Sediakan kartu nama untuk para pelanggan, mungkin sewaktu-waktu mereka mau pesen buat acara perkumpulan.

Demikian hanya sedkit yang bisa kami sampaikan, semoga bisa menambah wawasan kita dalam berjualan susu kedelai. Semoga Sukses dan Berkah. Amiin

Dapatkan Resep Susu Kedelai dan Cara Membuat Susu Kedelai bisa diklik disini.

Analisa Peluang Usaha Susu Kedelai bisa Anda klik disini.
Load disqus comments

0 komentar