Jual Keripik Belut sebagai Peluang Usaha Makanan Ringan Modal Kecil

Bismillah.
Usaha makanan ringan dalam hal ini berjualan keripik belut saya jalani semasa akhir kuliah. Waktu-waktu mendekati wisuda, jadi urusan kuliah sudah sangat sedikit. Waktu itu saya baru saja menikah, jadi harus semangat berusaha sesuai kemampuan yang ada saat itu.

Keripik belut yang dijual adalah keripik belut kemasan kecil,  1 Ons, 2 Ons, setengah kiloan dan satu kiloan. Mayoritas kemasan kecil, untuk kemasan lainnya hanya kalau dapat pesanan saja. 

Sistem penjualanya dengan cara dititipkan di warung makan disekitar kampus, warung makan ditepi jalan, wedangan atau hik dengan pembayaran kongsinyasi. Dengan menyediakan keranjang makanan kita lobi tiap-tiap warung agar mau dititipi keripik belut. Bermodalkan raut muka yang memang murah senyum, Alhamdulillah jadi mudah diterima calon pelanggan. hehehe

Pada awal usaha dengan cara menawarkan seluruh prospek diwilayah yang jadi target usaha kita. Dengan berjalannya waktu akan terseleksi, mana saja warung yang rame terjual keripik belutnya dan juga mana saja warung yang pemiliknya tidak bisa lanjut kerjasama. Setiap usaha tentunya ada resikonya, tapi resiko itu akan segera tertutup oleh keuntungan yang lain.

Keripik belut dibeli di Jetis, Wonosari, Klaten Jawa Tengah dengan merk Keripik Belut "MAWAR". Kemasan kecil dibeli dengan harga Rp 300,- kemudian dititipkan ke warung seharga Rp 400,-. Harga kemasan kiloan selalu berubah karena harga belut tidak stabil. Bila harga belut tinggi biasanya stok kemasan kecil kosong, karena bila dibuat kemasan harga 300 terlalu sedikit isinya. 

Keripik belut merupakan sumber makanan berprotein tinggi yang lezat rasanya. Alhamdulillah keripik belut termasuk makanan yang digemari masyarakat solo, penjualan hampir semua habis, retur ya masih ada cuma sedikit. Bila ada retur bisa kita kembalikan ke pihak produsen.

Waktu keliling terbagi menjadi dua shif. Shif pagi untuk melayani warung makan yang kebanyakan operasionalnya siang hari. Shif sore untuk melayani warung wedangan atau hik yang mayoritas operasionalnya malam hari. Tiap shif paling butuh waktu 3 jam, kadang kurang dari itu dah selesai. Alhamdulillah masih banyak waktu luangnya, bisa buat talim dan bersama keluarga.

Setelah sebuah warung mau dititipi keripik belut, maka langsung kita taruh sekitar 10 - 100 bungkus keripik belut beserta keranjang plastiknya. Jumlah yang dititipkan tergantung rame sepinya warung tersebut. Setelah seminggu kita cek, menghitung jumlah yang laku, menarik sisa, dan mengganti stok yang baru, pemilik warung tinggal membayar jumlah yang laku terjual. 

Segmen yang belum saya garap secara optimal adalah segmen toko oleh-oleh. Kalau bisa menggarap segmen ini InsyaAlloh bisa menjual keripik belut kemasan kiloan.

Jualan keripik belut termasuk usaha modal kecil, satu sirkulasi hanya butuh Rp 300.000,- untuk kulakan 1.000 bungkus keripik belut. Modal awal paling membeli keranjang plastik untuk menaruh keripik belut, yang harga per pcs-nya sekitar Rp 2.000,- dikalikan jumlah pelanggan. 

Memang efisiensi modal dan perputaran modal paling bagus pada usaha dagang. Bandingkan dengan usaha jenis lain, mungkin perputaran modalnya butuh waktu berbulan-bulan lamanya. Misal usaha budidaya, panen bisa menunggu 3 bulan bahkan lebih.

Kendala yang dulu dirasakan sewaktu usaha keripik belut adalah tidak kontinyunya stok kemasan kecil, karena masih terbatasnya belut dipasaran. Ini jadi peluang bisnis ternak belut tentunya. Melihat kondisi ini, ingin rasanya membudidayakan belut sekaligus memproduksi sendiri keripik belut untuk memenuhi kebutuhan pasar yang masih sangat tinggi. Dulu pernah mencoba menggoreng sendiri, tapi belum bisa renyah, masih ulet. 
Load disqus comments

0 komentar