Cerpen Tentang Cinta : Reuni SD



Cerpen Tentang Cinta

Judul : Reuni SD
Karya : Sara Yunita


Siang ini begitu panas. Terik matahari begitu menyengat di ubun-ubun. Namun tidak bagi Katrina. Ia hanya menghabiskan waktunya di kamarnya yang ber-AC sambil membaca novel koleksi nya. Selama tidak ada kesibukkan seperti ada janji dengan seseorang atau pun ada tugas sekolah, Katrina selalu menyempatkan diri untuk membaca novel yang ia koleksi. Di kamarnya ada banyak novel yang ia punya. Mulai dari novel anak, remaja, dan dewasa. Saat-saat santai seperti ini yang selalu ia tunggu karena selama ini ia selalu sibuk dengan berbagai urusan. Di tengah Katrina tengah sibuk membaca novel, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuju kamarnya.


TOK! TOK! TOK!
Seseorang telah mengetuk pintu kamar Katrina. “Kat, diluar ada yang nyariin kamu.” Teriak seseorang yang tak lain adalah ibunya Katrina.

   “Iya, ma.” Sahut Katrina dari dalam seraya mulutnya ngoceh karena ketenangannya terganggu.
Katrina segera menemui tamunya dibawah. Tampak seorang perempuan yang seumuran dengannya tengah duduk disofa seraya tangan perempuan itu mengipas-ipas wajahnya karena merasa gerah.

   “Wenika.” Sahut Katrina pada teman sebayanya itu.
Wenika yang sedari tadi menunggu tampak senang melihat kemunculan Katrina.

   “Tumben banget lo kesini. Ada apa?” Ujar Katrina seraya duduk disofa.

   “Gw Cuma mau ngasih ini.” Ujar Wenika seraya menodorkan undangan kecil.

Katrina membuka dan membaca undangan tersebut. Disitu tertuliskan bahwa Katrina diundang untuk datang keacara reuni SD sekaligus untuk merayakan tahun baru tepat di malam tahun baru. Katrina melotot saat membaca bahwa acara tersebut akan diadakan dirumahnya Andi.

   “Hah? Dirumahnya  Andi?” Ujarnya  kemudian.

Katrina teringat sewaktu ia SD. Dulu Andi cs selalu nge-bully-nya. Bagaimana jadinya jika Katrina dipertemukan kembali dengan musuh bebuyutannya itu. Ya! Semenjak kelulusan SD waktu itu usai, Katrina tak pernah bertemu lagi dengan Andi, Yasir, dan Army. Mereka yang paling jahil diantara teman yang lain. Dulu Katrina gadis kecil yang cengeng dan lemah. Ia tak berani membalas atau melawan teman yang berbuat jahil terhadapnya. Sampai-sampai Katrina dijuluki sebagai si cengeng. Ini yang membuat Andi cs tak genjar dalam menjahili Katrina. Sekarang masa kelam itu sudah berlalu selama lima tahun dan baru pertama kalinya acara reuni alumnus angkatan Ketrina diadakan.

   “Kat, lo kenapa bengong?” Tanya Wenika heran.

   “Nggak! Gw nggak mau datang keacara ini, nggak!” Bantah Katrina.

   “Nggak bisa gitu donk, Kat. Alumnus angkatan kita itu diundang semua dan harus datang. Emang lo nggak kangen sama mereka. Mereka pasti kecewa kalau lo nggak datang.” Omel Wenika panjang lebar.

Katrina mendengus kecewa. Ia memang kangen dengan teman-teman SD-nya dulu. Sudah sekian lama ia tak pernah bertemu dengan mereka. Walaupun sebenarnya ia masih menaruh benci pada Andi cs.

   “Tapi kan lo tahu sendiri kalau Andi. . .” Ujar Katrina terputus.

   “Iya gw tahu. Pokoknya malam tahun baru nanti gw jemput lo, kita berangkat bareng. OK!” Ujar Wenika seraya bangkit lalu pergi begitu saja.

   “Tapi, tapi. . .” Ujar Katrina terputus lagi karena Wenika keburu pergi. “Yachh. . .” Desahnya kemudian.

Meskipun terpaksa, Katrina memilih untuk datang keacara tersebut. Ia tak ingin mengecewakan teman-temannya yang dulu pernah berteman baik dengannya. Dan malam itu pun tiba, Katrina memekai dress warna biru tua yang membuatnya sangat terlihat feminism dan juga cantik. Rambutnya yang curly terurai panjang. Make-up yang ia pakai pun semakin membuatnya tampak cantik secara natural. Kacamata yang biasa ia pakai kini dilepaskannya. Katrina ingin membuat perubahan kali ini. Dari dulu ia selalu memakai kacamata dan teman-teman SD-nya dulu tak pernah mendapati Katrina saat tidak memakai kacamata. Tidak menutup kemungkinan kalau teman-temannya nanti akan pagling ketika melihat Katrina seperti ini dan Andi cs tak bisa menjahilinya lagi. Katrina melihat dirinya dikaca. Tampak berbeda. Ia sendiri pun pangling dengan dirinya sendiri. Apalagi orang lain. Tak lama kemudian Katrina mendengar bel pintu berbunyi. Ia yakin itu pasti Wenika. Lalu Katrina segera membukakan pintu. Ia penaAmalian bagaimana reaksi Wenika saat melihatnya.

KLEKK!!!

Pintu pun terbuka. Wenika terkejut bukan kepalang. Ia memasang muka cengo’ saat melihat Katrina dari ujung kaki keujung kepala.

   “Waw, Kat. Lo lepas kacamata. Gw hampir nggak ngenalin lo.” Ujar Wenika seraya berdecak kagum.
Katrina tersenyum lebar. Ia berfikir kalau Wenika saja bisa pangling terhadapnya apalagi teman yang lain yang justru tak pernah bertemu lagi dengan Katrina.

   Mobil putih yang ditumpangi Wenika dan Katrina itu pun malaju menuju tempat yang dituju, yaitu rumahnya Andi. Tak lama kemudian mereka sampai ditempat tujuan. Mereka turun dari mobil lalu segera masuk menuju ke hiruk pikuk pesta. Ternyata teman yang lain sudah datang lebih awal. Pestanya sangat meriah yang dilengkapi dengan lampu disko, makanan dan minuman, serta balon dan terompet yang menghiasi setiap sudut ruangan. Katrina dan Wenika lebih memilih untuk duduk mengobrol satu sama lain dengan teman wanita yang lain yang lama tak pernah bertemu. Katrina tak peduli dengan lingkungan disekelilingnya. Tahu-tahu jika tiba-tiba Andi cs muncul pun, ia tak peduli. Yang ia rasakan sekarang adalah senang karena bisa bertemu dengan teman sebayanya dulu. Disisi lain tanpa Katrina sadari, dari kejauhan ada tiga pemuda yang tengah memperhatikan Katrina. Mereka tak lain adalah Andi, Yasir, dan Army.

   “Guys, lihat tuh cewek yang baju biru.” Ujar Yasir seraya menunjuk kearah Karina. “itu siapa sih?” sambungnya.

   “Lo lupa, Sir. Itu kan Katrina si cewek cengeng itu. Kok sekarang dia beda banget ya.” Ujar Army seraya berdecak kagum.

   “Lo bener My, dia cantik banget ya sekarang.” Ujar Yasir ikut berdecak kagum.

Lain dengan Andi. Ia hanya terdiam tak berkomentar apapun lalu meninggalkan kedua sahabatnya itu. Yasir dan Army berjalan mendekati Katrina sambil membawakan minuman.

   “Hai Katrina, masih inget gw kan? Nih minuman segar buat lo.” Ujar Army seraya menaruh minuman diatas meja tepat didepan Katrina.

Kemudian disusul oleh Yasir yang juga membawakan minuman untuk Katrina. “Hai, Kat. Lo cantik banget ya sekarang. Nih gw bawain minuman special buat lo.” Ujarnya kemudian seraya menyodorkan minuman.
Katrina tampak curiga dengan yang dilakukan Yasir dan Army kepadanya. Karena mereka tak pernah memperlakukan Katrina seperti itu sejak SD dulu. Namun ia heran kenapa Andi tak bersama Yasir dan Army. Padahal dimana ada mereka disitulah ada Andi. Kecurigaan Katrina pun semakin besar. Ia harus waspada kalau tahu-tahu Andi sekarang sedang berada disuatu tempat dan siap untuk menjebaknya.

   “ini beneran minuman? Atau racun?” Celetuk Katrina.

   “Oh, NGGAK!!!” Bantah Yasir dan Army kompak.

Mereka berusaha meyakinkan Katrina kalau mereka ingin damai. Namun Katrina tak ingin kena tipu daya mereka untuk yang sekian kalinya.

   “Gw nggak haus. Mending lo berdua aja yang minum.” Ketus Katrina seraya bangkit meninggalkan Yasir dan Army.

   “yaahh. . .” Ujar mereka kompak.

Katrina diam-diam nekad untuk meninggalkan pesta tanpa sepengetahuan siapapun. Ia mengendap-endap menuju pintu luar. Katrina ingin segera menjauh dari hiruk pikuk pesta. Apalagi kalau sampai bertemu dengan Andi. Semua orang hanyut dalam gemerlap pesta. Tak ada yang memperhatikan gerak-gerik Katrina. Mereka tengah asyik menikmati pesta. Ada yang makan camilan dan minuman, ada yang tengah asyik berdansa, ada yang hanya sekedar duduk mengobrol, dan masih banyak lagi yang mereka nikmati didalam pesta. Namun lain halnya dengan Andi. Tanpa disengaja saat Andi hendak mengambil minuman, ia melihat gerak-gerik Katrina yang mencurigakan. Perlahan-lahan Katrina berhasil keluar dari rumah Andi yang mewah itu. Dan ia pun berhasil kabur. Tanpa Katrina sadari ternyata Andi membuntutinya dari belakang. Katrina berhenti dan duduk dibebatuan besar dekat rumah Andi. Ternyata ia tak berani untuk benar-benar kabur meninggalkan pesta. Ia hanya tak ingin kalau Andi cs menjahilinya lagi. Benar-benar masih labil.
   Suara meriah pesta masih terdengar. Katrina masih duduk menyendiri. Andi mendekati Katrina dari samping seraya membawa gelas berisi minuman. Katrina sempat terkejut karena tiba-tiba saja ada orang yang duduk disampingnya.

   “Andi? Ngapain lo kesini?” Tanya Katrina.

Andi menenggak minumannya lalu berkata, “Justru gw yang nanya, ngapain lo disini?”
Katrina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Lo ngikutin gw ya?” Timpal Katrina.

   “Ge-er lo. ngapain juga gw ngikutin lo. Ini kan tempat favorit gw buat menyendiri.” Dusta Andi.
   “Menyendiri? Emang lo kenapa?” Tanya Katrina lagi.

Andi hanya mengangkat kedua bahunya dan tak mau bicara. Sejenak terasa hening. Tak lagi ada percakapan diantara mereka.

   “Gw nggak seharusnya ada disini.” Ujar Katrina berusaha untuk mencairkan suasana hening.
   “Emang kenapa?” Tanya Andi seraya mengernyit.

UPS!!!

Ternyata Katrina keceplosan. Ia hampir saja membuka kartu. Ia tak ingin datang kepesta Karena tak ingin bertemu dengan Andi. Mana mungkin kalau sampai Katrina mengaku didepan Andi sendiri. Katrina membekap mulutnya seraya melotot. Andi masih menunggu jawaban dari Katrina.

   “enggh . . ., eh, kayaknya Wenika nyariin gw deh. Gw duluan ya.” Ujar Katrina seraya bangkit meninggalkan Andi yang masih duduk terdiam.

Tanpa Katrina sadari, Andi melemparkan senyum kepadanya karena Andi sudah tahu apa alasan Katrina tak ingin berada dipesta. “Pasti karena gw.” Fikirnya.
   Akhirnya saat yang ditunggu pun tiba. Yaitu acara puncak dimana detik-detik pergantian tahun akan segera tiba tinggal menghitung detik saja. Semua bersiap dengan memantau jam. Ditangan meraka sudah memegang terompet masing-masing termasuk Katrina.

   “10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1.” Serempak semua orang seraya membunyikan terompet mereka.

Malam pergantian tahun pun semakin meriah karena ditambah dengan letusan kembang api nan indah dilangit malam. Sama halnya dengan anak-anak alumnus seangkatan dengan Katrina, mereka tengah asyik bermain-main dengan kembang api dan petasan. Namun tidak bagi Katrina. Ia sangat takut dengan suara ledakan petasan yang menyerupai bom. Kedua telinganya ia tutup ketika beberapa temannya menyalakan petasan. Katrina berkali-kali dikejutkan oleh suara petasan yang sangat keras itu. Andi cs tampak tengah menyusun rencana untuk menjahili Katrina dengan petasan. Perlahan-lahan dengan langkah mengendap-endap dan tanpa sepengetahuan Katrina, Andi cs mulai menyalakan petasan lalu dilemparkannya petasan itu didekat Katrina. Sontak Katrina terkejut dan langsung berteriak. Lalu ia segera menjauh dari petasan itu. Katrina menoleh kebelakang dan ia mendapati Andi cs tengah puas menertawainya. Katrina sangat kesal dengan ulah mereka yang sejak dari dulu selalu jahil. Kali ini Katrina tak cengeng lagi. Ia mulai berani jika harus membentak mereka.

   “Andi!!! Yasir!!! Army!!!” Teriak Katrina seraya mendekati mereka. “Kalian tuh jahil banget sih. Dari dulu nggak pernah berubah.” Omel Katrina.

   “Lo cantik banget sih kalau lagi marah. Mending lo jadi pacar gw aja.” Ujar Yasir seraya mencolek dagu Katrina.

   “Jangan mau, Kat. Mending sama gw aja.” Ujar Army seraya ikut mencolek dagu Katrina.
Katrina langsung mengusap dagunya.

   “Eh, udah-udah. Lo berdua nggak usah ya godain Katrina. Ayok, Kat.” Ujar Andi seraya menarik tangan Katrina untuk diajaknya menjauh dari Yasir dan Army.

Katrina pun hanya menuruti kemana ia akan diajak. Katrina sangat kagum dengan perubahan Andi terhadapnya. Ia sangat perhatian terhadap Katrina. Walaupun sebenarnya sifat jahilnya masih ada, Katrina tak pernah diperlakukan sebaik ini oleh Andi. Andi menjauhkan Katrina dari keramaian. Ia celingukan memastikan kalau Yasir dan Army tidak mengikutinya.

   “Nah, sudah aman. Sekarang gw anterin lo pulang, ya.” Ujar Andi.

   “Tapi kan gw datangnya sama Wenika, pulangnya juga harus sama dia donk..” Ujar Katrina.

    “Gw nggak keberatan kok.” Ujar Wenika yang tiba-tiba saja muncul. “Lo pulang duluan aja dianterin Andi.” Sambungnya.

Katrina menggigit bibir bawahnya. Ia berfikir sejenak lalu melirik Andi. “Ya udah deh.” Ujarnya kemudian.
Lalu Andi pun mengambil kunci mobilnya dan segera mengantar Katrina pulang. Dalam perjalanan tak ada percakapan apapun diantara mereka. Sampai mobil sport itu terparkir dihalaman rumah Katrina. mereka pun turun dari mobil.

   “Thanks ya, Ndi buat semuanya.” Ujar Katrina disertai senyum manisnya.
   “Iya, sama-sama.” Ujar Andi.

Baru selangkah Katrina hendak masuk ke rumah, tiba-tiba saja Andi menggapai tangan Katrina. Katrina pun menoleh.

   “Kamu beda banget sekarang. Makasih ya udah datang.” Ujar Andi dengan logat aku-kamu.


Katrina tersipu mendengar sendiri pujian dari Andi yang tak pernah diberikannya sejak dulu. Katrina pun mengangguk lalu masuk kedalam rumah.
Bagikan Ke Teman Anda
Cerpen Tentang Cinta : Reuni SD | Aris Subekti | 5